ACARA BESAR DI SAWUNGGALING


1. Istighosah

Tarangane Pithik

Kegiatan Istighosah Jumat Legi merupakan acara rutin masyarakat Lidah. Tradisi ini dilaksanakan setiap hari Jumat Legi menurut penanggalan Jawa, dan mencapai puncaknya pada bulan Oktober dalam bentuk Haul Akbar. Tradisi ini berawal sejak tahun 2017 dengan hanya tujuh orang jamaah, dan kini berkembang pesat hingga diikuti oleh lebih dari 200 peserta. Kegiatan ini rutin dilaksanakan di Makam Sawunggaling. Dalam acara Haul Akbar, masyarakat menggelar doa bersama, pengajian oleh para Kyai, serta pertunjukan Sulukan Sawunggaling sebagai wujud perpaduan antara nilai-nilai religius dan budaya lokal atau disebut dengan Gelar Doa angkat Budaya.


2. Tumpengan

Tarangane Pithik

Tradisi yang masih lestari hingga kini adalah membawa tumpeng ke Makam Sawunggaling ketika seseorang memiliki hajat atau nazar. Tumpeng tersebut dibawa sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas terkabulnya doa atau rezeki yang diperoleh. Setelah doa bersama yang dipimpin oleh juru kunci makam, yaitu Bapak Setyo Budi dan Bapak Hj. Madenan, tumpeng tersebut kemudian dimakan bersama-sama sebagai lambang kebersamaan dan rasa syukur. Meski kini sebagian masyarakat menganggap tradisi ini mulai terkikis, esensinya tetap sama, bukan sebagai bentuk kesyirikan, melainkan sedekah sebagai wujud syukur kepada Tuhan.


3. Odek-odek

Tarangane Pithik

Tradisi Odek-odek yaitu kebiasaan berbagi uang koin atau tebar rezeki setelah seseorang mendapatkan keberkahan atau hasil usaha. Tradisi ini biasanya dilakukan pada hari Kamis Kliwon, dan masih sering dijalankan oleh warga sekitar. Tradisi ini juga dilakukan pada saat haul akbar sebagai bagian dari rangkaian acara.